‘Esa Moi Teologi Rekonsiliatif di Tengah Kemajemukan Halmahera

Kategori: , , Tag: , ,

Deskripsi

Judul: ‘Esa Moi Teologi Rekonsiliatif di Tengah Kemajemukan Halmahera
Penulis: Pdt. Frederick R. Putjutju, M.Teol
Penerbit: Lintang Rasi Aksara
Cetakan: 1, Maret 2012

Masyarakat Tabaru, di Halmahera Barat, sebagai sebuah komunitas kultural, telah mendasari cara berperilaku dan berinteraksi bersama “yang lain” dengan nilai-nilai kultural warisan budaya. Salah satunya melalui sapaan dan falsafah ‘esa moi. Sapaan ini dipakai oleh masyarakat Tabaru mulai dari lingkungan terbatas, yaitu keluarga hingga masyarakat luas yang majemuk. Di dalam keluarga yang terikat dengan ikatan darah, ‘esa moi mengungkapkan hubungan yang sangat intim dan akrab. Di masyarakat, ‘esa moi menyapa sesama komunitas yang terikat secara historis dan kultural, dan lebih luas lagi untuk siapa pun dan dari latar belakang apa pun, baik yang sudah lama bersama-sama dengan komunitas maupun yang baru bergabung atau baru pertama kali datang ke komunitas. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, ‘esa moi mengungkapkan keterbukaan, kehangatan, penerimaan, keakraban, pengakuan, seperti menyapa saudara sedarah.

Dalam dialognya dengan nilai-nilai kekristenan, ‘esa moi berkembang menjadi sistem nilai yang merefleksikan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan komunitasnya; dan manusia, komunitas dengan Sang Pemberi Kehidupan. Sebagai sebuah teologi (teologi ’esa moi), falsafah ’esa moi mengandung nilai-nilai: kekeluargaan/persaudaraan; kerukunan dan keharmonisan hidup; kerendahan hati (memaafkan dan mengampuni); rekonsiliatif, demokratis (=musyawarah untuk mufakat); pluralis dan inklusif; “menjaga hati” (bahasa Tabaru: nanga singina posidia-pojaga); komunikatif dan interaktif dan kegotongroyongan. Sebagai sebuah teologi, ’esa moi menyapa manusia, siapa pun dia dalam kasih Allah. ’Esa moi, merefleksikan kehendak Allah pada kehidupan yang plural, yaitu perdamaian.

Additional information

Berat 0.5 kg

Ulasan

Belum ada ulasan.

Be the first to review “‘Esa Moi Teologi Rekonsiliatif di Tengah Kemajemukan Halmahera”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *