Bulan Sabit di Nusa Utara

Rp70.000,00

Pada satu pihak, Islam mengalami penyesuaian dengan agama dan kebudayaan lokal masyarakat Nusa Utara, pada lain pihak, Islam juga membawa perubahan bagi agama dan kebudayaan lokal. Dengan kata lain, kendati Islam adalah agama historis yang memiliki originalitas konteks dari mana ia lahir dan berasal, toh mengalami penyesuaian, ipso-facto, “perubahan”. Jadi, keduanya saling mempengaruhi dan saling memperkaya. Pada satu pihak, agama dan kebudayaan lokal mengalami “pengayaan” dari luar, tetapi pada lain pihak, agama universal  mengalami “pengakaran” pada kebudayaan setempat.

Kategori: , , Tag: , ,

Deskripsi

BULAN SABIT DI NUSA UTARA
Perjumpaan Islam dan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan Talaud
Ivan R. B. Kaunang
Penyunting: Denni H.R. Pinontoan,
Penerbit: Lintang Rasi Aksara Books
Cetakan kedua, 2013
Dimensi: 14×21 cm
ISBN: 978-602-7802-10-0

Buku ini mengungkap bahwa perjumpaan Islam dengan agama dan kebudayaan lokal mengalami satu proses akulturasi, yakni  “penyesuaian diri” dengan budaya setempat. Konkretnya, pada satu pihak, Islam mengalami penyesuaian dengan agama dan  kebudayaan lokal masyarakat Nusa Utara, pada lain pihak, Islam juga membawa perubahan bagi agama dan kebudayaan lokal. Dengan kata lain, kendati Islam adalah agama historis yang memiliki originalitas konteks dari mana ia lahir dan berasal, toh mengalami penyesuaian, ipso-facto, “perubahan”. Jadi, keduanya saling mempengaruhi dan saling memperkaya. Pada satu pihak, agama dan kebudayaan lokal mengalami “pengayaan” dari luar, tetapi pada lain pihak, agama universal mengalami “pengakaran” pada kebudayaan setempat.

Dalam konteks Nusa Utara, indigenisasi dan inkulturasi dialami agama-agama historis-universal di Nusa Utara, sehingga mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga menjadi khas dan asli secara kultural. Contoh, misalnya, “massamper” yang ada pada masyarakat Kristen di Sangihe. “Agama Adat” Musi di Talaud sulit disangkal sebagai hasil indigenisasi agama Kristen ke dalam adat dan budaya masyarakat desa Musi. Acara-acara pengucapan syukur, kumawus, serta berbagai simbol agama Kristen, dan lain sebagainya yang dijumpai di Minahasa tidak sepenuhnya mengungkap Kristen purba atau Kristen Eropa, tetapi telah bercampur dengan kebiasaan dan budaya lokal. Masyarakat muslim desa Kendahe (dahulu sebagai pusat Kerajaan Kendahe) di Sangihe, atau komunitas Muslim di Tondano (Jaton = Jawa Tondano) dan Tomohon di Minahasa, dan seterusnya yang tidak mungkin disebut satu per satu, telah mengalami adaptasi dalam artian indigenisasi dan inkulturasi.

Additional information

Berat 1 kg

Ulasan

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Bulan Sabit di Nusa Utara”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *